TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR - www.ferryndalle.com

TEKNIK SIPIL DAN ARSITEKTUR - www.ferryndalle.com
Latest Post

Alternatif Material Ferosemen Untuk Memperkuat Beton Bertulang

Written By Ferry Ndale on Sabtu, 25 Oktober 2014 | 23.08

Akhir-akhir ini, para civil engineer, khususnya structural engineer, kembali harus menghadapi kenyataan betapa gempa bumi seperti pada gempa Turki dan gempa Taiwan dapat merobohkan tidak saja bangunan lama yang di bangun (tahun 70-an). Saat penguasaan ilmu mendesain struktur tidak sebaik sekarang ini, tetapi juga bangunan yang relatif baru. Akibat dari gempa-gempa tersebut selain jatuhnya korban yang mencapai angka ribuan, meskipun bukan semuanya disebabkan oleh ambruknya bangunan, puluhan ribu lainnya harus kehilangan tempat tinggal. Selain itu, juga mengakibatkan terhentinya aktivitas ekonomi dan pemerintahan, serta tidak berfungsinya fasilitas umum vital seperti aliran listrik, air bersih,telephone, gas, dsb. Hal ini menyebabkan penderitaan korban gempa bumi semakin bertambah. Penderitaan dan terhentinya nadi ekonomi sebenarnya tidak disebabkan oleh mekanisme dari suatu gempa bumi tetapi lebih disebabkan oleh hancurnya infrastruktur yang dibangun oleh manusia yang seharusnya menjadi tempat dan fasilitas untuk menunjang dan menikmati kehidupan yang nyaman. Penyebab dari rubuhnya bangunan, khususnya bangunan gedung beton bertulang yang berlantai banyak dan juga jembatan beton bertulang, adalah akibat ambruknya atau hancurnya kolom yang merupakan bagian struktur yang utama pada bangunan teknik sipil. Umumnya kehancuran kolom tersebut disebabkan oleh kurangnya kemampuan menahan geser dan rendahnya daktilitas (ductility) akibat, salah satunya, jumlah tulangan geser yang dipasang tidak mencukupi. Kalau pada bangunan lama kurangnya tulangan geser yang dipasang memang akibat peraturan beton yang ada pada saat itu mengaturnya demikian, tetapi pada bangunan baru kekurangan tulangan geser pada kolom lebih banyak disebabkan oleh kesalahan manusia yang dilakukan secara sadar. Selain jumlah tulangan geser yang tidak memadai, pada bangunan yang relatif masih baru, yaitu yang dibangun pada tahun 1980-an, meskipun jumlah tulangan geser yang dipasang jauh lebih rapat dibandingkan dengan yang terpasang pada bangunan yang dibangun pada tahun-tahun sebelumnya, akan tetapi karena sudut kait (hook) ujung tulangan geser yang hanya 90-derajat ternyata tidak mencukupi untuk mentranfer tegangan agar tulangan geser bisa menahan deformasi tulangan utama kolom. Pada beberapa kasus gempa bumi, banyak kolom yang mengalami kehancuran geser yang dimulai oleh terbukanya kait tulangan geser. Hasil dari beberapa peneliti menunjukkan bahwa jika pada kolom yang jumlah tulangan gesernya sedikit atau kurang tetapi diberi penguat berupa selubung (jacket) pada bagian luarnya, kekuatan kolom tersebut akan meningkat, dan yang paling penting adalah daktilitasnya juga meningkat secara signifikan. Karenanya,penggunaan selubung, baik dari pelat baja, compositbase material (carbon fiber sheet, aramid, dsb), maupun beton bertulang, banyak kita jumpai applikasinya terutama dinegara-negara yang rentan terhadap gempa bumi dan kaya seperti, Jepang, Amerika, New Zealand, dll. Akan tetapi, penggunaan material tersebut bisa jadi akan sangat mahal dan memerlukan high skill labors (misalnya jika bahan pelat baja dan carbon fiber yang digunakan), ataupun secara visual tidak atau kurang bisa diterima karena ukuran kolom menjadi sangat besar (beton bertulang, tebal jacket mencapai 10 cm).
Dalam teknologi beton dikenal banyak jenis beton bertulang, diantaranya:

Beton bertulang konvensional (yang umumnya kita kenal dan digunakan pada banyak bangunan, seperti untuk membuat kolom atau tiang, balok, pelat lantai, dll). Tulangannya dari besi batangan dengan diameter yang beragam.

Beton Prestress (disebut juga beton prategang, karena terhadap tulangannya (biasanya dari kawat khusus) diberi sejumlah tegangan ditarik).

Ferrosemen (terbuat dari mortar (semen+pasir+air) + jaringan kawat (wire mesh) sebagai tulangan)

Fiber Concrete (beton serat), terbuat dari beton (semen+pasir+kerikil+air) + serat sebagai tulangan. Beton bertulang berserat ( fiber reinforced concrete ) didefinisikan sebagai bahan beton yang dibuat dari campuran semen, agregat halus, agregat kasar, air dan sejumlah serat ( fiber ) yang tersebar secara acak dalam matriks campuran beton segar    ( Amri, 2005 ). Penggunaan serat sebagai perkuatan pada bahan bangunan yang akan lebih memberikan tambahan kekuatan tarik daripada kuat tekan suatu bahan ( Swamy, 1980, dalam Bentur and Mindess,1990 ).  Adakalanya selain serat juga dipasang besi batangan sebagaimana beton bertulang konvensional. Untuk bahan serat ini bisa bermacam-macam:
a) sintetis : serat baja, serat carbon, serat polimer, dll.
b) natural : bambu, serat batang nibung, ijuk, dll.


Dibandingkan beton polos (tanpa tulangan) jelas beton serat lebih baik sifat mekanisnya. Tetapi ada kelemahan pada beton serat yaitu saat pencampuran bahan serat dengan bahan beton didalam pengaduk. Kemungkinan untuk tidak teraduk merata sangat besar. Jika hal ini terjadi sifat mekanisnya akan lebih jelek dibandingkan beton polos. Untuk mengatasi masalah pencampuran ini pada serat baja dan serat sintetis khususnya, dibuatkan bentuk serat sedemikian sehingga mudah bercampur. Misalnya, pada serat baja, panjang serat dibatasi hanya 3-4 cm; ujungnya dibuat bulat dsb. Pada serat alam kemungkinan untuk itu juga ada tetapi sepertinya tidak ekonomis. Barangkali diatasi dengan memperkerjakan banyak orang untuk mengaduk-aduk kembali setelah dikeluarkan dari pengaduknya (molen). Kelemahan serat alam lainnya adalah kemungkinan terjadi perubahan volume pada serat itu sendiri cukup besar karena bahan dari alam akan mudah sekali menyerap air pada saat pengadukan. Setelah sekian lama (beberapa bulan atau tahun) air tersebut akan mengering dan serat alam tersebut (misalnya serat bambu) akan mengecil. Akibatnya akan terbentuk pori disekitar serat. Hal ini sangat tidak diharapkan karena akan sangat mempengaruhi tidak saja kekuatan tetapi, yang terpenting, mempengaruhi daya tahan (durability) dari beton serat itu sendiri. Untuk jangka pendek barangkali masih kuat, tetapi untuk jangka panjang jelas tidak bisa diterima. Ada usaha untuk meminimalkan perubahan volume dari serat atau batangan bambu, yaitu dengan melaburi,mencat atau memberi lapisan tertentu (laminar atau dari bahan kimia lainnya) untuk mencegah masuk atau meresapnya air. Kembali, nantinya cost akan menjadi permasalahan.

Sistem Manajemen Proyek

Written By Ferry Ndale on Jumat, 10 Januari 2014 | 05.41

Posting kali yang lalu telah diketengahkan perlunya memperhatikan faktor-faktor yang disebut sebagai ciri-ciri umum manajemen proyek, agar pelaksanaan proyek dapat berhasil. Apabila dicermati, faktor-faktor penting yang disebut sebagai ciri-ciri umum manajemen proyek pada hakekatnya merupakan elemen-elemen yang apabila disusun secara sistematis akan membentuk suatu kerangka sistem manajemen. Sebuah sistem pada dasarnya merupakan suatu set atau susunan alat-alat, barang-barang, atau perangkat kerja, yang saling berhubungan atau saling tergantung satu sama lain sedemikian sehingga membentuk satu kesatuan yang kompleks. Sedangkan sistem manajemen dapat diartikan sebagai suatu set yang terdiri atas susunan terpadu dari konsep-konsep, dasar-dasar pengertian, atau teknik-teknik penanganan, yang berkaitan dengan manajemen. Dengan demikian menjadi jelaslah kiranya bahwa untuk dapat menangani pelaksanaan proyek dengan baik, atau paling tidak dimaksudkan untuk memperkecil peluang timbulnya permasalahan dan mencegah datangnya kesulitan, diperlukan pendekatan dengan menyusun suatu konsep Sistem Manajeinen Proyek yang lengkap, mendasar, kokoh, dan terpadu. Sedangkan konsep sistem yang dimaksud, tiada lain adalah penataan serta pengorganisasian atas faktor-faktor yang berpengaruh terhadap keberhasilan manajemen proyek.

Sistem Manajemen Proyek disusun dan dijabarkan menjadi seperangkat pengertian-pe­ngertian, alat-alat, dan petunjuk tata cara yang mudah untuk dilaksanakan sedernikian sehingga:
  1. mampu menghubungkan dan menjembatani kesenjangan persepsi di antara para perencana pembangunan dan pelaksananya, sehingga kesemuanya mempunyai satu kerangka konsep yang sama tentang kriteria keberhasilan suatu proyek,  
  2. dapat memberikan kesamaan bahasa yang sekaligus memadukan tertib teknis dan sosial, yang dapat diterapkan pada setiap proyek di setiap jenjang dengan cara-cara sederhana, jelas, sistematis serta mangkus, dan
  3. mampu mewujudkan suatu bentuk kerjasama dan koordinasi antar satuan organisasi pelaksananya sehingga terwujud suatu semangat bersama untuk merencanakan pro­yek secara lebih terinci, dan cukup cermat dalam mengantisipasi masalah-masalah yang akan timbul dalam pelaksanaannya.
Sistem Manajemen Proyek yang diberlakukan hendaknya ditujukan untuk dapat digunakan dalam upaya melengkapi tata cara organisasi yang berlaku. Sehingga pemakaian sistem ter­sebut, khususnya pada proyek-proyek pemerintah, akan membantu para birokrat untuk dapat memenuhi peraturan dan ketentuan pemerintah dalam perencanaan, penyusunan anggaran keuangan, dan sistem pelaporan.

Siklus Manajemen
Semua kegiatan proyek merupakan suatu siklus mekanisme manajemen yang didasarkan atas tiga tahapan, yaitu: perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi (Gbr.Siklus Mekanisme Manajemen Proyek). Siklus mekanisme manajemen tersebut merupakan proses terus-menerus selama proyek berjalan. Oleh karenanya pelaksanaan proyek berlangsung dalam suatu tata hubungan kompleks yang selalu berubah-ubah (dinamis). Rencana semula harus selalu disesuaikan dengan keadaan atau kondisi mutakhir dengan memanfaatkan umpan balik dari hasil evaluasi. Keberhasilan pelaksanaannya tergantung pada upaya dan tindakan yang terkoordinasi dari berbagai satuan organisasi dan jabatan di berbagai jenjang manajemen.

Perangkat Manajemen
Dalam rangka upaya membentuk suatu Sistem Manajemen Proyek yang lengkap serta kokoh, untuk pelaksanaan pada masing-masing tahapan siklus mekanisme tersebut memerlukan alat- alat manajemen, yang umumnya terdiri dari:

Analisis Masalah
Seperti telah dikemukakan terdahulu, perencanaan proyek dimulai dari masalah-masalah pokok program pembangunan, menyusun strategi yang lebih luas, dan kemudian memilih proyek-proyek yang akan dapat mencapai tujuan-tujuan program yang lebih luas. Untuk mendukung maksud tersebut, yaitu merencanakan proyek-proyek yang merupakan bagian dari kerangka strategi program, diperlukan cara-cara analisis yang sistematis, sederhana, mudah dikomunikasikan, dan didasarkan pada suatu kerangka pemikiran logis.
Gbr.Siklus Mekanisme Manajemen Proyek
Pendekatan akan dipermudah dengan mewujudkannya dalam bentuk bagan yang dapat menjelaskan seluruh harapan-harapan serta tujuan program, hubungannya dengan pembangunan sektor, yang sekaligus menentukan jangkauan serta sumbangannya untuk tujuan yang lebih luas. Dengan demikian bagan memperlihatkan serangkaian luas harapan-harapan atau tujuan program dan dapat dipakai sebagai alat bantu dalam memilih proyek-proyek mangkus, dalam bentuk Daftar Skala Prioritas.

Kerangka Logis
Suatu proyek pembangunan pada hakekatnya merupakan proses untuk merubah suatu keadaan, dan dipilih dari sejumlah proyek pilihan yang mewakili kemungkinan terbaik untuk mencapai hasil-hasil yang diharapkan sesuai dengan tujuan program. Agar dapat melakukan analisis, diperlukan suatu pedoman kerangka proses berpikir secara sistematis dan logis untuk digunakan sebagai alat perencanaan, pengorganisasian, dan komunikasi, yang akan sangat membantu dalam merancang dan menetapkan proyek terpilih. Kerangka Logis merupakan penjelasan urut dan nalar dalam proses perencanaan proyek-proyek yang berhasil guna terutama dipandang dari aspek pendanaan (cost effective), dimulai sejak dari latar belakang sampai dengan tercapainya tujuan. Kerangka logis juga berfungsi sebagai alat komunikasi yang dapat menjelaskan sasaran pokok proyek secara ringkas, ukuran-ukuran keberhasilannya, dan analisis segenap keadaan yang berpengaruh terhadap keberhasilan proyek pada umumnya.

Dengan demikian Kerangka Logis merupakan seperangkat pengertian yang saling ber­kaitan, yang mampu menjelaskan secara logis tentang:
  1. mengapa suatu proyek harus dilaksanakan,
  2.  bagaimana proyek akan dilaksanakan,
  3. faktor-faktor luar apa saja yang mengakibatkan ketidakpastian keberhasilan proyek,bagaimana wujud proyek bila sudah selesai, dan bagaimana menetapkan ukuran keberhasilan proyek yang sudah selesai. 
Selanjutnya, seperangkat pengertian tersebut akan sangat berguna untuk menjelaskan bidang- bidang tanggung jawab para pejabat yang terlibat di dalam proyek. Untuk proyek-proyek pemerintah, penyusunan Kerangka Logis bermanfaat membantu para Pimpinan Proyek dalam menyusun Daftar Usulan Proyek, memonitor proyek yang sedang berjalan, dan mengevaluasi proyek yang sudah selesai. Kerangka Logis disiapkan sejak tahap perencanaan oleh suatu Tim Proyek yang terdiri dari para pejabat di bidang perencanaan program pembangunan, instansi teknis, pemegang tanggung jawab mata anggaran, dan pengelola proyek. Meskipun demikian, selama proyek berjalan tidak mustahil telah terjadi perubahan-perubahan yang sudah tidak sesuai lagi dengan keadaan awal proyek, sehingga biasanya Kerangka Logis harus selalu direvisi untuk disempurnakan selama proses pelaksanaan proyek berjalan.

Analisis Anggaran Keuangan
Anggaran keuangan disusun secara realistis, bertahap waktu, dengan berorientasi pada keluaran-keluaran atau kegiatan-kegiatan proyek. Analisis anggaran keuangan bukan hanya dibuat berdasarkan Daftar Rencana Kegiatan dan pada saat perencanaan proyek saja. Akan tetapi, dengan ditunjang oleh suatu sistem akuntansi yang benar dan baik harus dapat disiapkan di setiap saat selama proyek berjalan. Analisis Anggaran Keuangan berguna untuk membagikan sumber daya yang terbatas guna hasil keseluruhan yang optimal, menganalisa perbandingan antara pembiayaan dan manfaat yang diperoleh, dan menyusun anggaran belanja yang realistis. Tata cara penyusunan Anggaran Keuangan Proyek dibahas secara lebih terinci di belakang.

Rincian Tanggung Jawab
Salah satu faktor yang ikut menentukan keberhasilan proyek ialah adanya peranan dan tanggung jawab yang jelas bagi setiap aparat, yang disetujui bersama oleh sesama pelaku- pelakunya. Suatu organisasi dengan melibatkan banyak unsur apabila tanpa dilandasi dengan kesepakatan yang jelas, cenderung akan mengundang masalah-masalah koordinasi yang dapat mengakibatkan kekacauan, kelambatan, bahkan pembengkakan biaya. Untuk itu, organisasi memerlukan Bagan Rincian Tanggung jawab yang merupakan salah satu perangkat Sistem Manajemen Proyek dengan kegunaannya antara lain sebagai berikut:
  1. Dapat membantu tercapainya kesepakatan mengenai peran dan tanggungjawab masing-masing individu atau satuan organisasi yang terlibat dalam pelaksanaan proyek.
  2. Untuk menyederhanakan pelaksanaan koordinasi proyek dan sebagai sarana untuk me­dia komunikasi antar masing-masing penanggung jawab.
  3. Memperlihatkan hubungan tugas dan jabatan secara jelas, sehingga membantu me­mastikan bahwa semua tugas dan seluruh personil yang diperlukan untuk pelaksanaannya telah tersusun.
Susunan Bagan Rincian Tanggung jawab juga untuk menetapkan kegiatan-kegiatan (tugas) dan pelaku-pelaku (organisasi atau individu) proyek. Informasi di dalam bagan Rincian Tanggung Jawab harus mudah dimengerti untuk dikomunikasikan, dan membantu dalam upaya pengerahan serta pemanfaatan seluruh personil dan satuan organisasi yang terlibat di dalam proyek secara berdaya guna.

Jadwal Pelaksanaan Provek
Jadwal Pelaksanaan Proyek berguna untuk menentukan waktu dan urutan kegiatan-kegiatan proyek, dan dibuat berdasarkan Daftar Perincian Kegiatan. Perangkat manajemen yang berupa jadwal ini menunjukkan kapan suatu kegiatan harus dimulai dan diselesaikan, serta memberikan landasan dalam penyusunan sistem monitoring dan pelaporan secara terus menerus atau kontinu. Terdapat bermacam-macam cara penjadwalan proyek yang dikenal, tetapi paling tidak ada dua macam yang sering dipakai yaitu jaringan kerja dan bagan balok. Pembahasan mengenai bagaimana cara menyusun jadwal dan sebagainya, akan diberikan secara rinci di belakang.

Sistem Monitoring dan Pelaporan
Dalam rangka pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan proyek dibutuhkan suatu media atau alat yang mampu merangkum informasi-informasi yang harus secara aktif diketahui, diikuti, dan diamati selama pelaksanaan. Untuk itu, diperlukan suatu Sistem Moni­toring dan Pelaporan, yang biasanya memakai media formulir-formulir isian dalam pelak­sanaannya. Formulir-formulir yang dimaksudkan tersebut selain berfungsi sebagai media komunikasi juga bermanfaat untuk memastikan bahwa keterangan tentang kemajuan proyek, masalah-masalahnya, peluang-peluangnya telah dihimpun, dianalisa, dan dilaporkan kepada pihak-pihak yang berwenang untuk pengambilan keputusan dan tindakan.

Sistem Evaluasi
Sistem Evaluasi yang diterapkan ditujukan untuk penyempurnaan pelaksanaan proyek, sehingga lebih bersifat berorientasi ke depan, yaitu upaya peningkatan kesempatan demi untuk keberhasilan proyek. Sistem Evaluasi diterapkan dengan tujuan untuk dapat memeriksa kemajuan dan kemampuan proyek dalam mengatasi segenap permasalahan yang dihadapi pada setiap saat, serta perlu tidaknya melakukan penyesuaian-penyesuaian dalam pelaksa­naannya. Evaluasi dilakukan secara berkala selama masa pelaksanaan proyek untuk kepen­tingan perbaikan atau perlu tidaknya perencanaan ulang. Sedangkan apabila ditujukan untuk peningkatan produktivitas proyek-proyek yang serupa, dilakukan pada saat setelah selesainya proyek.

Ruang lingkup evaluasi lebih luas ketimbang monitoring. Monitoring adalah kegiatan mengukur apakah provek masih tetap berjalan pada jalurnva. sedangkan evaluasi menanyakan apakah proyek berjalan pada jalur vang benar. Perencanaan evaluasi hendaknya sudah harus dipertimbangkan pada saat penyusunan rencana proyek secara terinci atau saat tahap awal pelaksanaan proyek.

Konsep Pendekatan Tim
Pendekatan Tim (Team Approach) merupakan upaya membangkitkan semangat untuk menggalang persatuan dalam bekerja sama, memadukan tindakan, meningkatkan komunikasi, mengurangi masalah dan mendorong keikutsertaan mereka yang keterlibatannya diperlukan demi keberhasilan proyek. Mengingat kondisi organisasi proyek sangat kompleks, pendekatan Tim sangat menentukan dalam upaya menumbuhkan keserasian hubungan kerja yang mangkus diantara para pelaksana, yang biasanya terdiri dari individu-individu berasal dari berbagai satuan organisasi. Tingkat pengertian dan kesadaran akan pentingnya penerapan konsep pendekatan Tim akan sangat menentukan dalam keberhasilan perencanaan dan pelaksanaan proyek, terutama pada para pejabat kunci (key person). Para pejabat kunci yang terdiri dari pemimpin proyek, bendaharawan, pejabat perencana program, penanggung jawab mata anggaran, struktural dari instansi teknis, dan sebagainya, harus disertakan ke dalam Tim yang dimaksud. Mereka harus mampu mewujudkan suatu kerja sama kokoh dalam mengkoordinasikan dan mengendalikan pelaksanaan proyek sehingga mampu memberikan landasan kuat bagi keberhasilan proyek. Di dalam forum Tim Proyek para pejabat kunci bersama- sama merumuskan harapan-harapan dan tujuan proyek, menggariskan tugas-tugas yang harus dilaksanakan, menyusun anggaran keuangan, dan membagi serta merinci tanggung jawab dalam organisasi. Pendekatan Tim Proyek hendaknya diterapkan sedini mungkin, sejak dimulai­nya proyek dan terus berlangsung selama pelaksanaan proyek.

Segenap alat-alat manajemen tersebut di atas berkaitan secara logis satu sama lainnya. Sesuai dengan keperluannya digunakan pada seluruh tahap dan tingkat di dalam siklus me­kanisme manajemen, yaitu tahap perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Untuk mendapatkan kejelasannya, pada (Tabel Matriks Penggunaan Perangkat Manajemen) diberikan suatu contoh penggunaan perangkat atau alat-alat manajemen pada setiap tahap, disajikan dalam bentuk daftar matriks. Contoh adalah untuk suatu proyek pemerintah, yang seperti diketahui sesuai dengan jaringan jalur birokrasi yang harus ditempuh umumnya lebih memerlukan kelancaran arus informasi dibandingkan dengan proyek swasta. Penggunaan alat yang tepat sesuai dengan tahapan maupun tujuan pengguna­annya merupakan salah satu kunci keberhasilan di dalam Sistem Manajemen Proyek. Tetapi hendaknya diingat pula bahwa tersedianya alat-alat tersebut hanya merupakan salah satu aspek saja dari keseluruhan sistem. Sama pentingnya dengan tersedianya alat-alat tersebut ialah proses penerapannya oleh para perencana proyek, pimpinan proyek, dan para pelaksana lainnya yang terlibat dalam Sistem Manajemen Proyek. Sedangkan pada sisi lain, oleh karena setiap proyek memiliki kekhususan maka sudah barang tentu pola penggunaannya akan berlainan pula.

Bila Sistem Manajemen Proyek dapat tersusun dengan tatanan yang baik dan diterapkan secara terpadu dalam keseluruhan mekanisme manajemen, maka perencanaan proyek-proyek akan tersusun dengan lebih realistis dan lebih mudah untuk dilaksanakan. Manfaat pelaksanaan dengan melalui suatu sistem manajemen proyek yang tertata dengan baik akan dapat dirasakan oleh seluruh aparat maupun pejabat di dalam jajaran organisasi, karena memberikan cara- cara yang sistematis dan terpadu dalam hal-hal sebagai berikut:

Tabel Matriks Penggunaan Perangkat Manajemen
  1. Pengembangan berbagai proyek, baik proyek fisik maupun non fisik, yang terarah dan sejalan dengan tujuan pengembangan program dalam pembangunan.
  2. Merinci harapan-harapan dan tujuan proyek serta menentukan urutan kegiatan yang logis untuk mencapainya.
  3. Persiapan Daftar Usulan Proyek, Daftar Isian Proyek, dan Petunjuk Operasional yang realistis dan cermat (untuk proyek-proyek pemerintah).
  4. Mengorganisasikan seluruh individu dan satuan organisasi yang terlibat dalam proyek secara sistematis dilengkapi dengan deskripsi tanggung jawab.
  5. Monitoring serta pengukuran kemajuan proyek yang realistis dan dinamis sehingga mampu memberikan peringatan dini terhadap kemungkinan kegagalan.
  6. Mewujudkan sistem informasi yang teratur sehingga para pejabat kunci dapat mengikuti secara rutin mengenai kemajuan proyek, masalah-masalah, dan peluang-peluang yang dihadapi proyek.
  7. Pemanfaatan hasil evaluasi untuk melakukan revisi perencanaan proyek yang sedang berjalan ataupun proyek-proyek lainnya.
Post:4
DSMPK

Siklus Hidrologi

Written By Ferry Ndale on Rabu, 08 Januari 2014 | 05.29

Sirkulasi air di bumi

Di bumi terdapat kira-kira sejumlah 1,3-1,4 milyard km3 air: 97,5% adalah air laut, 1,75 % berbentuk es dan 0,73 % berada di daratan sebagai air sungai, air danau, air tanah dan sebagainya. Hanya 0,001 % berbentuk uap di udara. Air di bumi ini mengulangi terus menerus sirkulasi —> penguapan, presipitasi dan pengaliran keluar (outflow). Air menguap ke udara dari permukaan tanah dan laut, berubah menjadi awan sesudah melalui beberapa proses dan kemudian jatuh sebagai hujan atau salju ke permukaan laut atau daratan. Sebelum tiba ke permukaan bumi sebagian langsung menguap ke udara dan sebagian tiba ke permukaan bumi. Tidak semua bagian hujan yang jatuh ke permukaan bumi mencapai permukaan tanah. Sebagian akan tertahan oleh tumbuh- tumbuhan di mana sebagian akan menguap dan sebagian lagi akan jatuh atau mengalir melalui dahan-dahan ke permukaan tanah.

Sebagian air hujan yang tiba ke permukaan tanah akan masuk ke dalam tanah (inflitrasi). Bagian lain yang merupakan kelebihan akan mengisi lekuk-lekuk permukaan tanah, kemudian mengalir ke daerah-daerah yang rendah, masuk ke sungai-sungai dan akhirnya ke laut. Tidak semua butir air yang mengalir akan tiba ke laut. Dalam per­jalanan ke laut sebagian akan menguap dan kembali ke udara. Sebagian air yang masuk ke dalam tanah keluar kembali segera ke sungai-sungai (disebut aliran intra = interflow). Tetapi sebagian besar akan tersimpan sebagai air tanah (groundwater) yang akan keluar sedikit demi sedikit dalam jangka waktu yang lama ke permukaan tanah di daerah- daerah yang rendah (disebut groundwater runnof = limpasan air tanah).

Jadi sungai itu mengumpulkan 3 jenis limpasan, yakni limpasan permukaan (surface runoff), aliran intra (interflow) dan limpasan air tanah (groundwater runoff) yang akhirnya akan mengalir ke laut. Singkatnya ialah: uap dari laut dihembus ke atas daratan (kecuali bagian yang telah jatuh sebagai presipitasi ke laut), jatuh ke daratan sebagai presipitasi (sebagian jatuh langsung ke sungai-sungai dan mengalir langsung ke laut). Sebagian dari hujan atau salju yang jatuh di daratan menguap dan meningkatkan kadar uap di atas daratan. Bagian yang lain mengalir ke sungai dan akhirnya ke laut.

Seperti telah dikemukakan di atas, sirkulasi yang kontinu antara air laut dan air daratan berlangsung terus. Sirkulasi air ini disebut siklus hidrologi (hydrological cycle). Lihat Gbr. Siklus Hidrologi.

Tetapi sirkulasi air ini tidak merata, karena kita melihat perbedaan besar presipitasi dari tahun ke tahun, dari musim ke musim yang berikut dan juga dari wilayah ke wilayah yang lain. Sirkulasi air ini dipengaruhi oleh kondisi meteorologi (suhu, tekanan atmosfir, angin dan lain-lain) dan kondisi topografi; kondisi meteorologi adalah faktor-faktor yang menentukan.

Air permukaan tanah dan air tanah yang dibutuhkan untuk kehidupan dan produksi adalah air yang terdapat dalam proses sirkulasi ini. Jadi jika sirkulasi ini tidak merata (hal mana memang terjadi demikian), maka akan terjadi bermacam-macam kesulitan. Jika terjadi sirkulasi yang lebih, seperti banjir, maka harus diadakan pengendalian banjir.
Gbr. Siklus Hidrologi.

Jika terjadi sirkulasi yang kurang, maka kekurangan air ini harus ditambah dalam suatu usaha pemanfaatan air.

Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, maka berkembanglah ilmu Hidrologi, yakni ilmu yang mempelajari sirkulasi air itu. Jadi dapat dikatakan, Hidrologi adalah ilmu untuk mempelajari:

presipitasi (precipitation)
evaporasi dan transpirasi (evaporation)
aliran permukaan (surface stream flow) dan
air tanah (ground water)
Sirkulasi air/Siklus Hidrologi dan Neraca air (water balance)

Sirkulasi air telah dikemukakan di atas. Hubungan-hubungannya secara singkat telah dilukis pada Gbr.Sirkulasi air

Dalam proses sirkulasi air, penjelasan mengenai hubungan antara aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) di suatu daerah untuk suatu periode tertentu disebut neraca air (water balance).

Umumnya terdapat hubungan keseimbangan sebagai berikut:
P = .D + E+ G + M.......................................................................................................... (1)
dimana:
P: presipitasi
Gbr.Sirkulasi air.
D: debit
E: evapotranspirasi
G : penambahan (supply) air tanah
M: penambahan kadar kelembaban tanah (moisture content).

Dalam hal-hal tertentu, beberapa buah suku dalam persamaan 1 dapat diabaikan, yang tergantung dari periode perhitungan neraca air atau sifat-sifat dari daerah itu. Jika periode perhitungan neraca air diambil 1 tahun dan daerah yang dipelajari itu luas, maka mengingat variasi meteorologi itu berulang dalam siklus 1 tahun, kadar kebasahan tanah itu juga berulang dalam siklus 1 tahun. Harga M dalam persamaan (1) akan menjadi nol dan persamaan menjadi:

P=D + E+G..................................................................................................................... (2)

Jika semua supply air tanah itu telah keluar ke permukaan di sebelah atas tempat pengukuran dan mengalir ke bawah, maka persamaan neraca air tahunan menjadi:

P =D + E......................................................................................................................... (3)

Jika perhitungan neraca air itu diadakan pada suatu daerah tertentu yang terbatas, maka aliran ke dalam (inflow) dan aliran keluar (outflow) dari D dan G kira-kira akan berbeda. Persamaan (1) menjadi:

P=(D2-Dl) + E+(G2-Gl) + H.Pa + M.............................................................................. (4)

dimana:
Dl: Air permukaan dari bagian hulu yang mengalir ke dalam daerah yang ditinjau.
D2: Air permukaan yang mengalir keluar dari daerah yang ditinjau ke bagian hilir.
G1: Air tanah yang mengalir dari bagian hulu ke dalam daerah yang ditinjau.
G2: Air tanah yang mengalir keluar dari daerah yang ditinjau ke bagian hilir.
H: Perubahan/variasi muka air tanah rata-rata daerah yang ditinjau.
Pa: Laju menahan udara rata-rata (mean air holding rate) di bagian lapisan variasi air tanah.

Dalam persamaan ini, P, D1 , D2 dan H dapat diukur, G1 and G2 dapat dihitung dengan menggunakan pengukuran variasi muka air tanah.M dan Pa adalah harga-harga yang diperoleh dari profil tanah pada titik-titik tertentu yang dipilih di daerah pengaliran. Dalam perhitungan neraca air yang dipergu­nakan untuk irigasi, variasi kwantitatif berdasarkan faktor-faktor alamiah seperti presipi­tasi, pembekuan, evaporasi, transpirasi, aliran keluar (outflow) air permukaan tanah, air tanah dan lain-lain, beserta faktor-faktor buatan (artificial factors) seperti pengambilan air untuk irigasi, drainasi air kelebihan, jenis dan cara penanaman dan lain-lain harus diperinci dengan jelas.


Air berubah ke dalam tiga bentuk/sifat menurut waktu dan tempat, yakni air sebagai bahan padat, air sebagai cairan dan air sebagai uap seperti gas. Keadaan- keadaan ini kelihatannya adalah keadaan alamiah biasa karena selalu kelihatan demikian. Tetapi sebenarnya keadaan-keadaan/sifat-sifat ini adalah keadaan yang aneh di antara seluruh benda-benda. Tidak ada suatu benda yang berubah ke dalam tiga sifat dengan suhu dan tekanan yang terjadi dalam hidup kita sehari-hari.
Umunya benda menjadi kecil jika suhu menjadi rendah. Tetapi air mempunyai volume yang minimum pada suhu 4°C. Lebih rendah dari 4°C, volume air itu menjadi agak besar. Pada pembekuan, volume es menjadi 1/11 kali lebih besar dari volume air semula.

Mengingat es mengambang di permukaan air (karena es lebih ringan dari air), maka keseimbangan antara air dan es dapat dipertahankan oleh pembekuan dan pencairan. Jika es lebih berat dari air, maka es itu akan tenggelam ke dasar laut atau danau dan makin lama makin menumpuk yang akhirnya akan menutupi seluruh dunia. Air itu mudah mengembang dan menyusut menurut perubahan suhu. Tetapi volume air hanya berkurang sangat kecil oleh tekanan dari luar. Volume air hanya berkurang 5/100.000 kali oleh tekanan 1 atmosfir.
 Tabel Tetapan-tetapan fisik dari air.
Air mempunyai kapasitas menahan panas (heat Holding capacity) yang sangat besar. Jika es menjadi air dan air menjadi uap, maka sangat banyak panas yang diserap. Hal ini disebut panas pencairan (=panas sebanyak 80 cal yang dibutuhkan untuk mencairkan 1 g es) dan panas penguapan (= panas sebanyak 540 cal yang dibutuhkan untuk me­nguapkan 1 g air pada suhu 100°C). Sifat-sifat ini mengurangi variasi suhu. Demikian pula, air dapat dengan mudah melarutkan banyak bahan. Akibatnya ialah bahwa air sungai itu mengandung komponen-komponen yang aneh dari daerah yang bersangkutan. Seringkali sungai itu memupuk daerah yang diairinya, tetapi kadang-kadang sungai merupakan sungai mati, karena mengandung bahan-bahan yang merusak (berbahaya).

Sifat kemampuan melarutkan ini juga digunakan untuk kebutuhan pertanian. Umpamanya, pemanfaatan serba guna irigasi sprinkler (irigasi siraman), bukan hanya untuk menyiram air tetapi juga untuk menyebar bahan-bahan kimia pertanian, pupuk dan lain-lain. Sifat fisik air dapat dilihat dalam Tabel di atas (Tabel Tetapan-tetapan fisik dari air).

Post: 1
Sumber: Kiyotoka Mori,dkk ISBN 979-408-108-6,Manual on Hydrology
              Sosrodarsono,Kensaku Takeda, 2003,Hidrologi Untuk Pengairan

Program Versus Proyek dalam Manajemen Proyek

Written By Ferry Ndale on Sabtu, 04 Januari 2014 | 19.18

Di dalam masyarakat kita, kata proyek bagi seseorang yang sama sekali awarn selalu dikaitkan dengan pengertian sebuah tempat luas atau lapangan yang dipagari dan dijaga Satpam sehingga tidak setiap orang boleh masuk. Di dalam pagar adalah tempat banyak orang hiruk-pikuk bekerja membangun sesuatu bangunan yang dari luar pagar tampak menjulang ke atas dengan segala perlengkapan dan peralatannya yang sepertinya canggih. Termasuk dibayangkan pula bahwa di dalam pagar selalu tersedia upah bagi mereka yang mau bekerja untuk berbagai pekerjaan kasar. Masyarakat menyimpulkan bahwa proyek adalah tempat beredarnya uang, tempat untuk mencari laba atau untung bagi banyak pihak, dan masih banyak lagi macam- macam pandangan yang keliru tentang arti kata proyek.

Sangat mungkin bayangan, pandangan, dan penafsiran tersebut mula-mula sekali timbul karena adanya tulisan peringatan yang dipasang di tepi jalan, Awas Ada Proyek. Kemudian pemandangan kesibukan luar biasa setiap harinya termasuk hilir mudiknya kendaraan-kendaraan pengangkut material, para pemborong dan mandor yang berpenampilan fisik sejahtera, dan kenyataan bahwa hampir pada setiap akhir pekan selalu terselenggara pembayaran upah bagi para pekerjanya. Dengan demikian masyarakat awam mengartikan kata proyek dalam lingkup yang sempit berdasarkan apa yang mampu dilihatnya secara fisik, ialah kon­struksi fisik suatu bangunan.

Sedangkan sebuah proyek yang sesungguhnya, diartikan sebagai upaya yang diorga­nisasikan untuk mencapai tujuan, sasaran dan harapan-harapan penting dengan menggunakan anggaran dana serta sumber daya yang tersedia, yang harus diselesaikan dalam jangka waktu tertentu. Dengan demikian, arti kata proyek yang sebenarnya mencakup pengertian dan berkaitan dengan macam pekerjaan yang luas. Kegiatail' tugas prakarya sekelompok siswa SMTA, pekerjaan penelitian dalam karya Ilmiah Remaja, atau Tugas Akhir seorang mahasiswa misalnya, dapat disebut sebagai proyek walau dalam bentuk skala kecil. Di negeri kita yang sedang membangun secara bertahap, dimulai sejak PELITA I pada tahun 1968 dan pada saat sekarang telah memasuki Pembangunan Jangka Panjang Tahap ke II, tentunya sudah dikenal berbagai proyek pembangunan. Proyek-proyek tersebut mencakup upaya memenuhi kebutuhan kehidupan yang luas, sejak aspek sosial, politik, ekonomi, budaya, pertahanan, sampai yang berhubungan dengan keteknikan atau rekayasa yang menerapkan teknologi maju. Dalam pembangunan di bidang pendidikan misalnya, dikenal Proyek Pengadaan Buku Wajib, Proyek Penataran P-4 Mahasiswa Baru, atau Proyek Penataran Metodologi Penelitian bagi dosen Perguruan Tinggi dan sebagainya. Meskipun sudah mengenal adanya proyek-proyek seperti tersebut, masih sering juga dijumpai pengertian yang salah mengenai arti dan fungsi sebuah proyek di kalangan masyarakat.

Proyek berupa rangkaian kegiatan panjang yang dimulai sejak direncanakan, kemudian dilaksanakan, sampai benar-benar memberikan hasil-hasil atau keluaran-keluaran sesuai de­ngan perencanaannya. Proyek baru dapat dinyatakan selesai apabila telah berhasil memberikan keluaran-keluaran yang dapat ditujukan guna mencapai harapan-harapan yang lebih penting lagi, yaitu tujuan fungsional proyek. Sesuatu proyek pada umumnya tidaklah berdiri sendiri, melainkan merupakan bagian dari strategi pengembangan program luas yang mungkin harus didukung oleh beberapa proyek. Perencanaan proyek berawal dan dimulai dari masalah-masalah pokok dalam pembangunan, pembangunan sektor misalnya, lalu menyusun strategi pengembangan yang lebih luas dan kemudian menetapkan proyek-proyek yang diharapkan dapat untuk mencapai tujuan-tujuan program yang lebih luas lagi. Dengan demikian suatu proyek merupakan bagian dari strategi pengembangan program tertentu, atau dengan kata lain suatu program dapat dijabarkan menjadi sekelompok proyek-proyek yang satu sama lain saling berkaitan. Keseluruhan pelaksanaan proyek-proyek tersebut diarahkan untuk mencapai tujuan-tujuan dari pengembangan suatu program pembangunan tertentu.

Untuk mendapatkan pemahamannya, pada (Gambar. Hubungan Program dengan Proyek) diberikan suatu contoh hubungan program dengan proyek-proyek. Contoh tersebut merupakan suatu program pemerintah sesuai dengan yang digariskan dalam GBHN melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan RI, 

yaitu ;Program Penyempurnaan dan Peningkatan Prasarana serta Sarana Pendidikan. Langkah- langkah untuk mencapai tujuan program tersebut dijabarkan menjadi sekian banyak proyek, baik berupa proyek fisik maupun non fisik. Pelaksanaan proyek-proyek pemerintah tersebut akan melibatkan banyak instansi atau satuan organisasi, sejak Depdikbud RI tingkat pusat sampai ke daerah, Badan Pertanahan Nasional, Pemerintah Daerah Tk I dan II, Departemen Pekeijaan Umum, rekanan konstruksi dan pemasok material, yang keseluruhannya membentuk jaringan birokrasi kompleks. Agar pelaksanaan dan hasilnya sesuai dengan tujuan yang diharapkan, tanpa terjadi kekacauan dalam proses pendelegasian wewenang, tanggungjawab, dan pengambilan keputusan, mutlak diperlukan upaya koordinasi dan penataan secara organisatoris sebaik-baiknya.

Untuk pelaksanaan proyek-proyek Lembaga atau Perusahaan Swasta, walaupun pada prinsipnya juga menggunakan pengertian hubungan antara program dengan proyek sama dengan yang telah disebutkan, pada umumnya jaringan birokrasi yang berlaku tidaklah terlalu kompleks dan cenderung lebih pragmatis. Hal demikian dapat dimungkinkan, kecuali karena struktur organisasi pada lembaga-lembaga swasta memang jauh lebih sederhana, tidak me­merlukan tata organisasi kompleks, juga didukung kesadaran bahwa semakin panjang dan rumit jalinan birokrasi untuk sesuatu program akan cenderung semakin mengundang munculnya lebih banyak permasalahan, bahkan membengkaknya pembiayaan. Sehingga oleh karenanya, susunan tata organisasi Lembaga Swasta pada umumnya akan tampak lebih ringkas.

Seperti yang telah dikemukakan, pelaksanaan proyek pada hakekatnya adalah proses merubah sumber daya dan dana tertentu secara terorganisasi menjadi hasil pembangunan yang mantap sesuai dengan tujuan dan harapan-harapan awal, dan kesemuanya harus dilaksanakan dalam jangka waktu yang terbatas. Sementara itu, seperti yang telah dijelaskan melalui contoh, pada sisi lain disadari pula bahwa pelaksanaan proyek pada umumnya merupakan suatu rangkaian mekanisme tugas atau kegiatan yang rumit, yang mengandung berbagai permasalahan serta kesulitan tersendiri. Berdasarkan atas kondisi yang kompleks tersebut, membawa kita kepada suatu pertanyaan besar, bagaimana agar suatu proyek dapat diselesaikan dengan tepat waktu, tepat mutu sesuai dengan peraturan, perundangan serta ketentuan-ketentuan lain yang berlaku, dan tetap dalam batas-batas anggaran yang telah direncanakan. Sudah barang tentu bukanlah hal yang mudah untuk dapat menjawab pertanyaan tersebut. Selain memang banyak faktor yang menjadi penyebabnya, disadari pula tentang kompleksitas jaringan mekanisme kegiatan di dalam Manajemen Proyek. Semakin kompleks mekanismenya, sudah tentu semakin banyak pula masalah yang harus dihadapi. Apabila tidak ditangani secara sungguh-sungguh, berbagai permasalahan akan memberikan dampak berupa terlambatnya penyelesaian, penyimpangan mutu hasil, terdapat sisa anggaran besar karena proyek tidak selesai, pembiayaan membengkak, kekacauan dalam upaya koordinasi, pemborosan sumber daya, persaingan tak sehat di antara para pelaksana, serta kegagalan untuk mencapai tujuan dan sasaran yang diinginkan.

Untuk penyelesaiannya, setelah dilakukan inventarisasi seluruh permasalahan dan ke­sulitan yang timbul, kemudian dilakukan analisis terhadap setiap masalah dalam rangka upaya memperoleh pemahaman yang lengkap. Faktor-faktor utama penyebab timbulnya permasalahan dan kesulitan antara lain ialah: harapan serta tujuan yang kurang jelas dan tidak realistis, lingkungan proyek yang cepat berubah keadaannya, banyaknya individu dan satuan organisasi yang harus dikoordinasikan menjadi satu kesatuan, keterbatasan dalam sumber daya dan dana, tata cara dan birokrasi yang tidak praktis, dan lain sebagainya.

Oleh karena itu, agar pelaksanaan proyek dapat berhasil perlu diperhatikan faktor-faktor spesifik penting yang disebut sebagai ciri-ciri umum manajemen proyek, sebagai berikut:

Tujuan, sasaran, harapan-harapan, dan strategi proyek hendaknya dinyatakan secara jelas dan terinci sedemikian rupa sehingga dapat dipakai untuk mewujudkan dasar kese­pakatan segenap individu dan satuan organisasi yang terlibat.

Diperlukan Rencana Kerja, Jadwal, dan Anggaran Belanja yang realistis.

Diperlukan kejelasan dan kesepakatan tentang peran dan tanggungjawab di antara semua satuan organisasi dan individu yang terlibat dalam proyek untuk berbagai strata jabatan.

Diperlukan mekanisme untuk memonitor, mengkoordinasikan, mengendalikan, dan mengawasi pelaksanaan tugas dan tanggung jawab pada berbagai strata organisasi.

Diperlukan mekanisme sistem evaluasi yang diharapkan dapat memberikan umpan balik bagi manajemen. Informasi umpan balik akan dimanfaatkan sebagai pelajaran dan dipakai sebagai pedoman di dalam upaya peningkatan produktivitas proyek.

Sesuai dengan sifat dinamis suatu proyek, apabila diperlukan Tim Proyek atau satuan organisasi proyek dapat dimungkinkan untuk melakukan kegiatan-kegiatan yang mungkin harus bergerak di luar kerangka organisasi tradisional atau rutin, akan tetapi dengan tetap berorientasi pada tercapainya produktivitas.

Diperlukan pengertian dan pemahaman mengenai tata cara dan dasar-dasar peraturan birokrasi, dan pengetahuan tentang cara-cara mengatasi kendala birokrasi.

Post:4
DSMPK

Mill & Overlay

The Phu My Bridge-Vietnam-Construction Time Lapse

Written By Ferry Ndale on Rabu, 01 Januari 2014 | 21.10

>

Pabrik Pengolahan Playwood

Sistem Manajemen Konstruksi

Written By Ferry Ndale on Sabtu, 28 Desember 2013 | 05.08

Di kalangan masyarakat kita, masih saja selalu terjadi kerancuan dalam mengartikan kata konstruksi. Istilah konstruksi beton dan konstruksi kayu misalnya, seringkali masih digunakan untuk maksud mengartikan struktur rangka beton dan struktur kayu. Munculnya kerancuan karena di masa lalu kita pernah menggunakannya sebagai padanan kata constructie (bahasa Belanda, artinya: struktur) yang artinya berlainan dengan kata construction (bahasa Inggris, artinya: pembangunan). Sedangkan istilah - sistem manajemen konstruksi - yang selama ini digunakan oleh kalangan luas adalah padanan dari istilah bahasa Inggris construction man- agement system yang berarti sistem pengelolaan pembangunan sesuatu bangunan.

Proses konstruksi sesuatu bangunan pada hakekatnya merupakan rangkaian kegiatan-kegiatan yang berdasarkan pada sistem rekayasa (engineering system) konstruksi, yang bersifat unik atau khas untuk setiap proyek. Dalam berhadapan dengan suatu sistem rekayasa sudah tentu tidak bisa dipandang dengan memakai pengertian yang terpenggal-penggal atau sepotong demi sepotong, tetapi keseluruhannya merupakan kesatuan konsep sistem yang tidak terpisahkan. Upaya konstruksi yang dimaksud bukanlah ditekankan hanya pada pelaksanaan pembangunan fisiknya saja misalnya, akan tetapi mencakup konsep proses konstruksi dalam artian lengkap dan utuh. Sejak dikemukakannya prakarsa pembangunan, kemudian ditindak lanjuti dengan kegiatan survai, penyusunan perencanaan, perancangan detail dan seterusnya, sampai bangunan benar-benar berhasil berdiri serta berfungsi sesuai dengan tujuan fungsio­nalnya. Apabila dicermati perubahannya dari masa ke masa, sejak dari awal pertumbuhannya, proses konstruksi sepertinya cenderung tumbuh dan berkembang menjadi terpisah-pisah. Keadaan demikian tiada lain bermula dari timbulnya tuntutan keahlian spesialisasi untuk pelaksanaan elemen-elemennya. Munculnya tuntutan spesialisasi yang terutama berkaitan dengan kapasitas penguasaan atas ilmu pengetahuan dan teknologi, yang memperlihatkan laju perkembangan yang semakin pesat saja. Disamping itu,juga terjadi pemisahan konstruksi melalui pentahapan kegiatan-kegiatannya berkaitan dengan keterbatasan dalam penyediaan dana. Sehingga pada situasi mutakhir menunjukkan. bahwa pelaksanaan kegiatan-kegiatan harus ditopang dengan pelayanan banyak pihak dari berbagai unsur profesi, sejak kontraktor pembangun dan subkontraktornya, pemasok material, mandor, sampai segenap pekerjanya. Sedang perencanaan dan pengendaliannya melibatkan kegiatan-kegiatan dari pihak pemberi tugas beserta berbagai profesi konsultan dan rekayasawan. Struktur keseluruhan tersusun membentuk sistem manajemen kompleks, lengkap dengan segenap subsistemnya. Namun hendaknya harus selalu diingat, meski cara pelaksanaan kegiatan-kegiatan terpaksa dipisahkan satu sama lainnya sesuai dengan keahlian profesi dan tanggungjawabnya, keseluruhan proses konstruksi secara konseptual tetap harus berlaku sebagai satu kesatuan sistem rekayasa (en- gineering system). Setiap elemen kegiatan pada hakekatnya tidaklah berjalan sendiri-sendiri, tetapi harus selalu dikendalikan dan dikoordinasikan dalam rangka upaya mewujudkan kesatuan konsep. Sebagai suatu sistem rekayasa konstruksi keseluruhan  mekanisme kegiatannya tetap selalu mewujudkan susunan hubungan konseptual yang saling terikat dan terkait, saling bergantung dan mempengaruhi. Sekali lagi, perlu dicatat bahwa seluruh kegiatan dalam sesuatu sistem rekayasa tidak bisa dipisah-pisah ataupun dipotong-potong hanya berdasarkan pada pemahaman yang dangkal dan sempit.

Sebagaimana layaknya pelaksanaan suatu operasi sistem, segala macam bentuk pemisahan kegiatan, pemenggalan tahapan, ataupun pemisahan tanggung jawab keahlian profesi, hendaknya justru harus dilandasi dengan azas-azas dan ditujukan kepada kepentingan ter­capainya kesangkilan. Atau dengan kata lain, upaya pemisahan kegiatan tetap dimungkinkan asal saja disertai pemahaman bahwa tujuan utamanya adalah untuk mencapai tingkat kesangkilan yang lebih baik. Dengan sendirinya jika pelaksanaannya justru mencapai hasil yang menyimpang dari azas kesangkilan, tentunya patut dipertanyakan kelaikan upaya tersebut. Demikian pula seharusnya yang berlangsung dalam setiap proses konstruksi, baik proyek ukuran kecil maupun besar yang sarat dengan teknologi canggih sekalipun. Sejak dikenal pertama kali sampai sekarang, proses konstruksi pada hakekatnya merupakan kesatuan operasi sistem rekayasa yang penanganannya memerlukan sistem manajemen konstruksi yang lengkap dan utuh. Apabila dalam perkembangannya kemudian muncul banyak subsistem di dalamnya, hal tersebut semata-mata mewujudkan konsekuensi dalam mengantisipasi kemajuan teknologi konstruksi. Pola pengembangan melalui subsistem seperti misalnya penataan kontrak cara lumsum, harga satuan, putar kunci (turn key), atau BOT (built-operate-transfer) dan sebagainya, lebih dimaksudkan sebagai penerapan teknik-teknik dan strategi manajemen. Demikian pula halnya penataan organisasi pelaksanaan yang lebih terinci dengan mempertajam fungsi-fungsi dan upaya untuk lebih menekankan unsur-unsur, seperti: Manajemen Proyek, Manajemen Konstruksi, Rekayasa Konstruksi, Akuntansi Rekayasa, Rekayasa Nilai, dan sebagainya. Secara logis kesemua hal di atas seharusnya diterima sebagai wujud penerapan teknik-teknik manajemen untuk suatu sistem rekayasa secara umum, yang memang berciri khas selalu menuntut berbagai inovasi dalam pelaksanaannya. Seandainya di dalam praktek lantas muncul pandangan bahwa pengembangan subsistem hanya baik untuk diterapkan pada proyek-proyek tertentu, hal tersebut berawal dari pemahaman yang kurang lengkap mengenai hakekat sistem rekayasa dan sistem manajemen konstruksi. Sebenamya untuk semua bentuk dan macam proyek, baik ukuran kecil maupun besar, pada prinsipnya selalu memerlukan juga meski dengan bobot perhatian dan penekanan yang berbeda. Pengembangan subsistem melalui teknik-teknik dan strategi manajemen selalu ditujukan kepada upaya mencapai kemangkusan yang sama sekali tidak untuk merubah sistem utamanya, yaitu sistem manajemen proyek berlandaskan pada sistem rekayasa konstruksi. Hanya karena pemahaman yang tidak pada  tempatnya, hendaknya jangan sampai mengakibatkan arah pembangunan menyimpang dari tujuannya.

Khususnya bagi kalangan masyarakat dunia konstruksi di Indonesia, meski sejarah telah membuktikan kemampuan di bidangnya, akan tetapi penguasaan pengetahuan tentang analisis dan berbagai pengembangan teknik manajemen konstruksi baru berlangsung belakangan. Sudah barang tentu setelah melalui alih pengetahuan dari negara-negara lain sebagai bagian dari hasil penelitian dan pengembangan (research and development) mereka. Secara umum, datangnya berbagai macam arus pengetahuan dan informasi tersebut biasanya disambut dan disikapi sebagai sesuatu hal yang baru. Kadang-kadang proses penyerapan dan pemaham­annya dapat dikuasai dengan benar, dalam arti secara proporsional sesuai dengan yang di­maksudkan. Akan tetapi tidak jarang pula terjadi kesimpangsiuran dalam mencema pengetahuan dan informasi baru tersebut. Seringkali pengetahuan yang sebenarnya lebih dimaksudkan sebagai bentuk analisis pendalaman untuk sesuatu subsistem, tetapi diterima sebagai pola sistem baru yang harus diterapkan dalam manajemen. Sebagai contoh adalah informasi mengenai analisis rekayasa nilai (value engineering), analisis tentang sistem manajemen konstruksi (Construction Management System), dan bahkan sistem manajemen proyek (Project Management System). Kesemuanya itu sebenarnya merupakan informasi yang harus lebih diperhatikan agar pelaksanaan konstruksi, baik skala kecil maupun besar, dapat meningkat kesangkilan dan kemangkusannya. Didalam analisis biasanya ditekankan hal-hal apa sajayang harus dipahami, dikuasai, dan diterapkan dalam praktek manajemen konstruksi. Sudah tentu contoh-contoh yang diambil dalam analisis biasanya adalah proyek berskala besar sesuai dengan tingkat kemajuan yang mereka capai. Dengan demikian dalam mencema pengetahuan baru tersebut bukannya lantas harus ditafsirkan dengan membuat pengkotakan baru, bahwa proyek berskala besar tertentu sebaiknya menggunakan pola manajemen dengan CMS atau PMS. Disadari atau tidak, semangat mengkotak-kotak bahkan juga merambah pada konstruksi bangunan-bangunan pemerintah selama ini. Dalam praktek lantas muncul penafsiran apabila konstruksi dilaksanakan hanya dengan perencana atau kontraktor tunggal, tidak diperlukan koordinasi melalui sistem manajemen konstruksi. Demikian pula, analisis rekayasa nilai hanya diperlukan apabila dokumen perencanaan tidak baik dan memerlukan evaluasi. Padahal semua bentuk pengenibangan tersebut tetap diperlukan baik untuk proyek skala kecil atau besar. Masalah bahwa dalam pelaksanaannya memerlukan jasa berbagai konsultan spesialis adalah tergantung pada kebutuhannya, dengan tetap selalu memperhi­tungkan bahwa jasa konsultan tidaklah murah (bila benar-benar profesional).

Kegiatan utama sebagai bagian yang harus dipertanggung jawabkan secara profesional di dalam proses konstruksi merambah hampir menyusup ke seluruh aspek kebutuhan hidup umat. Hingga proses konstruksi pada kenyataannya mampu tumbuh dan berkembang menjadi bentuk industri yang potensial. Akan tetapi harus disadari bahwa pelaksanaan proses konstruksi berciri sangat berbeda dengan proses produksi industri pabrik, terutama tata cara produksi dan penetapan harga jual. Disamping itu, pengaruh industri jasa konstruksi membias ke jangkauan matra pengetahuan yang sangat luas, sejak dari rekayasa, teknologi, ekonomi, sampai dengan masalah-masalah sumber daya, yang kesemuanya saling jalin-menjalin dan mempengaruhi satu sama lain. Sudah seharusnya jika semua pihak yang terlibat dalam proses menyadari bahwa sebagai landasan untuk terjun ke dalamnya adalah didasarkan pada azas kepercayaan (trustworthty). Dalam prakteknya, azas tersebut dimasukkan dalam fungsi dari setiap unsur sebagai elemen tanggungjawab profesional yang harus ditegakkan sebagai citra kehormatan di atas kepercayaan yang diterima. Dari sekian banyak kegiatan, tanggung jawab diwujudkan dalam bentuk upaya mengembangkan metode konstruksi, pelayanan manajemen, tanggung jawab profesional, memperkecil hal-hal yang tidak ekonomis atau praktek yang tidak benar dalam proses. Akan tetapi berdasarkan pada penilaian atas hasil-hasil yang dicapai masih saja sering dituding belum juga menunjukkan produktivitas yang memadai, sekalipun sepertinya telah mampu tumbuh dan berkembang sebagai salah satu pilihan bidang usaha.

Post:3
DSMPK

BERITA

Loading...

Wikipedia

Hasil penelusuran

 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. Teknologi Bahan Bangunan - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website Published by Mas Template
Proudly powered by NEXT